IHSG Diprediksi Volatil, Pasar Cermati Penilaian Lembaga Global ke RI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak volatil sepanjang Februari 2026 setelah terkoreksi 4,73% dalam seminggu terakhir ke level 7.935, dengan pelaku pasar fokus pada penilaian Moody’s, UBS, dan Nomura terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
Penurunan rating outlook oleh lembaga global ini dipicu kekhawatiran defisit APBN melebar, inkonsistensi kebijakan ekonomi Prabowo, dan capital outflow asing Rp13,29 triliun. Diskusi di forum seperti Jawa11 ramai soroti sinyal merah ini sebagai peringatan dini krisis kepercayaan, tapi pemerintah klaim fundamental rupiah dan cadangan devisa masih kuat meski ATR indikator tunjukkan fluktuasi harian di atas 230 poin.
Faktor Tekanan Global
Support IHSG di 7.680 dan resistance 8.200 terancam capital outflow lanjutan akibat MSCI freeze interim dan hawkish The Fed, ditambah shutdown pemerintah AS. Analis Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi perkirakan MACD tren pelemahan berlanjut dengan RSI oversold, sementara BI tekankan stabilitas nilai tukar. Kritikus nilai respons Kemenkeu terlambat, karena transformasi ekonomi tak cukup tegas atasi tata kelola BUMN bermasalah.
Proyeksi Jangka Pendek
Hans Kwee dari PasarDana prediksi konsolidasi menguat ke 8.214 jika Moody’s stabil, tapi risiko turun ke 7.481 tinggi tanpa intervensi konkret. Sektor perbankan dan komoditas paling rentan net sell asing Rp3,62 triliun minggu lalu. Investor ritel disarankan selektif saham blue chip seperti BBCA, bukan ikut panic selling.
Strategi Investor Waspada
Meski prospek 2026 optimis tembus 9.000 ala OCBC, volatilitas ini uji komitmen pemerintah jaga defisit di bawah 3%. Tanpa transparansi anggaran infrastruktur, IHSG berpotensi jebak bull market semu seperti prediksi JP Morgan bear case 7.800.